16 Nov 2014

1a2b1

Aku mendengar suara langkah pria itu berlari mengejarku. Dari balik pintu aku beranikan diri mengintip. Terlihat pria itu melewati ruangan tempatku sembunyi. 
“ hufftt.. aman” gumamku. Aku harus segera mengambil pistol biusku. Langkah pria itu sudah tidak terdengar lagi. Perlahan-lahan aku keluar dari persembunyianku. Aku melangkah sangat pelan menuju tempat Hana. Sesampai disana aku melihat mayat Hana tergeletak sangat mengenaskan. Kepalanya berlumuran darah segar. Berceceran di lantai. Sungguh kasihan seharusnya dia tidak mati dengan cara seperti ini. Mestinya dia sekarang harus menjalani terapi bila tidak ada kerusuhan ini. Tapi syukurlah karena aku tidak mengalami nasib seperti Hana. “ aku tahu kau pasti kembali padaku manis” suara itu mengagetkanku. Pria itu tadi sudah berada dibelakangku. Nafasnya terengah-engah dengan memegang pipa besi berlumuran darah Hana, yang siap diayunkan kepadaku.



TRAAAKK!!.. belum sempat aku gunakan pistol biusku, pria itu sudah menghajar mukaku dengan pipa besi. darah menyembur dari hidungku. Sampai muncrat berceceran di dinding. Kepalaku terasa sangat berat dan berputar-putar. Aku terhuyung-huyung berpegangan pada meja. TRAAKKK..!! pukulan pipa besi yang kedua itu benar-benar membuatku tak sadarkan diri. Semua terasa gelap. Aku tidak punya tenaga. Bahkan walau untuk mengucapkan sepatah kata. Terdengar tawa pria itu makin lama makin jauh sampai tidak terdengar lagi. Kamu bernasib sama dengan Hana. Mati ditangan seorang maniak sadis.!!.. sungguh sangat disayangkan.




--T A M A T--