Aku mendengar suara langkah pria itu berlari mengejarku.
Dari balik pintu aku beranikan diri mengintip. Terlihat pria itu melewati
ruangan tempatku sembunyi.
“ hufftt.. aman” gumamku. Aku harus segera mengambil
pistol biusku. Langkah pria itu sudah tidak terdengar lagi. Perlahan-lahan aku
keluar dari persembunyianku. Aku melangkah sangat pelan menuju tempat Hana.
Sesampai disana aku melihat mayat Hana tergeletak sangat mengenaskan. Kepalanya
berlumuran darah segar. Berceceran di lantai. Sungguh kasihan seharusnya dia
tidak mati dengan cara seperti ini. Mestinya dia sekarang harus menjalani
terapi bila tidak ada kerusuhan ini. Tapi syukurlah karena aku tidak mengalami
nasib seperti Hana. “ aku tahu kau pasti kembali padaku manis” suara itu
mengagetkanku. Pria itu tadi sudah berada dibelakangku. Nafasnya terengah-engah
dengan memegang pipa besi berlumuran darah Hana, yang siap diayunkan kepadaku.
TRAAAKK!!.. belum sempat aku gunakan pistol biusku, pria itu
sudah menghajar mukaku dengan pipa besi. darah menyembur dari hidungku. Sampai
muncrat berceceran di dinding. Kepalaku terasa sangat berat dan berputar-putar.
Aku terhuyung-huyung berpegangan pada meja. TRAAKKK..!! pukulan pipa besi yang
kedua itu benar-benar membuatku tak sadarkan diri. Semua terasa gelap. Aku
tidak punya tenaga. Bahkan walau untuk mengucapkan sepatah kata. Terdengar tawa
pria itu makin lama makin jauh sampai tidak terdengar lagi. Kamu bernasib sama
dengan Hana. Mati ditangan seorang maniak sadis.!!.. sungguh sangat
disayangkan.
--T A M A T--






