2075
“Pemindahan complete..
sekarang kita beralih ke autopilot” suara computer terdengar.
“ aaahh
akhirnya..” gumamku. Setelah delapan bulan berlalu terasa seperti baru kemarin.
“ Ayo cepat kita lakukan cek monitor” teriak Ken.
“ tenang sayang.. jangan buru-buru”
sahut lili dengan masih mengenakan baju dalam.
Ya.. kami berada Diluar bumi menuju planet MARS. Ada tiga
orang awak kapal sebagai astronot. Ken sebagai engineer, Lili sebagai psikiater
dan Aku Luna sebagai Dokter. Kapal kami berisi 1.500 orang tidak waras dan
narapidana yang akan di asingkan di planet Mars. Semua dalam kotak dengan
kondisi di tidurkan. Sekelompok sampah masyarakat. Aku benar-benar tidak
mengerti dengan para politikus yang menugaskan ini semua. Bagaimana bisa
menyembuhkan penyakit para sampah masyarakat ini bila di asingkan disana..
walau sebenarnya bagi kami tidak ada masal;ah asal mereka membayar mahal
kontrak ini.
Lili mempunyai hubungan khusus dengan Ken. Mereka kadang
bertengkar dibelakangku saat Ken menggodaku. Aku melangkah keluar dari baju
astronot dan memakai baju seragamku yang didesain tahan terhadap segala
perubahan udara. Lili dan Ken masuk kamar mereka dengan tertawa-tawa kecil.
Entahlah apa yang mereka mau rencanakan di dalam kamar. Sudah biasa buatku
mendengar mereka. Setelah memakai seragam aku mulai mengerjakan penelitianku
dalam upaya untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan. Aku sangat tertarik pada
kasus dani. Salah satu pasien disini, seseorang yang sangat tampan yang menjadi
gila setelah ibunya meninggal. Dani tidak pernah melihat ayahnya karena ayahnya
meninggal saat dani masih dalam kandungan. Dani
sangat mencintai ibunya sendiri bahkan mereka hidup seperti suami istri.
Semua wanita dipanggil “mama” olehnya.
“ Ken sekalian cek pistol tidurnya,
apakah sudah terisi penuh batterynya” teriakku.
“ Tenang dok.. full of charge”
sahut Ken sambil kembali memeluk Lili.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan dan lenguhan Lili dan
Ken dari dalam kamar mereka.. “ aahh.. uuhhh.. oohh” teriak mereka. “ ehmmm. Datang
lagi deh “ gumamku. Aku seorang perempuan yang dingin. Tidak suka sex dan
workaholic. Terakhir aku berhubungan sex adalah dengan mantan suamiku. Buatku
sex sangat tidak menyenangkan. Sakit dan capek. Atau mungkin karena aku tidak
ada rasa dengan suamiku dulu. Memang pernikahan kita karena dijodohkan oleh
keluargaku. Aahh.. entahlah.
“ dok mau ikut kita ke dapur untuk sarapan?” Tanya Ken. Oh,
ternyata sudah selesai mereka.
“ tidak terima kasih “ sahutku.
“ apa sih kamu
itu, sok akrab banget” protes Lili pada Ken yang meski berbisik tapi kudengar
jelas dari mejaku. Aku tersenyum. Didapur Ken bertengkar dengan Lili gara-gara
menyapaku tadi.
“ Kamu itu memang tidak pernah cukup ya, dasar lelaki brengsek”
kata Lili.
“ apa sih.. Cuma berusaha baik saja” sahut Ken sambil menggenggam
tangan Lili.
“ jangan sentuh aku” hardik Lili lalu beranjak balik ke kamar
lagi.
“ ehhmm.. aku salah apa ya, wanita memang aneh” gumam Ken.
“ ahh terserah
deh, lebih baik aku cek mesin saja “ pikir Ken. Saat melintas di kotak tidur
pasien, Ken melihat dua tubuh pasien wanita yang sangat menggiurkan. Memang
semua pasien saat ditidurkan dengan kondisi
telanjang
“eehhhmm.. mungkin aku
perlu membuat perjalanan ini jadi tidak membosankan “ kata ken dalam hati
sambil tersenyum licik. Ken membangunkan salah satu pasien dengan menekan
tombol
“wake up”dan mulai mengarahkan kepala pasien yang sexi itu ke pangkal
pahanya yang sudah tanpa celana. “ Pecandu Sex berat “ baca Ken pada keterangan
disebelah kotak tidur.
“ ehmm.. sempurna” Ken tersenyum. “ehmm.. ehmm” Ken
memejamkan mata ke enakan saat penisnya dikulum oleh pasien wanita tadi.
“oohhh jilatan lidahnya sangat sahdu di
penisku, rasanya aku tidak akan bertahan lama. Hanya 3 menit Ken sudah muncrat,
spermanya melayang-layang di udara karena tekanan udara di luar angkasa.
“
thanks ya sayang..” sahut Ken pada pasien wanita tadi yang tersenyum kepadanya.
“sekarang kamu tidur lagi ya” sahut ken seraya menempelkan pistol bius pada
pasien tersebut. Ken mengembalikan tubuh pasien yang sudah tidur tadi ke
kotaknya.
“ sekarang giliranmu sayang..
“ kata ken sambil membuka dua kotak sebelah pasien yang tadi.
“ehmm.. dosis uap tidur di sector B rasanya seperti mau
habis. Lebih baik aku beritahu dokter Luna untuk membereskannya” kata Lili
kemudian beranjak untuk menuju sector B.
“hai.. kenapa ada dua kotak tidur yang
terbuka?” gumam Lili. Belum juga selesai
Lili berpikir kenapa, Dia melihat Ken tanpa sehelai benangpun sedang dihisap
penisnya oleh dua pasien wanita.
“ dasar bajingan, aku benar-benar tidak
percaya ini “ teriak Lili. Ken yang saat itu penisnya berada di salah satu
pasien dan tangan ken sedang meremas payudara pasien wanita lainnya tersentak
kaget mendengar teriakan Lili.
“ Kamu gila ya!. Kamu bangunkan mereka hanya
untuk menyetubuhinya?.. Kamu tahu hampir semua pasien disini adalah pecandu sex
dengan kekerasan” maki Lili.
“ tunggu-tunggu aku bisa jelaskan.. yang ini tidak
kok” jelas Ken. Sementara itu tanpa sepengetahuan Ken dan Lili kedua pasien
wanita tadi bermain-main tombol disebelah kotak tidur mereka.
“ hai.. banyak
sekali tombolnya ya” canda mereka.
“ CLIKS.. WOOOSSHHH “ semua kotak tidur
pasien terbuka, dan semuanya terbangun dari tidur..!!
“Biip.. biip..biip” aku mendengar suara pelan alarm di
monitor. “ehhmm.. sector B. Ken pasti sedang membereskan sesuatu” gumamku. “
mungkin mereka butuh bantuan, sebaiknya aku cek “ kamu beranjak menuju sector
B.
“huuh.. Mengapa pekerjaan mereka
selalu tidak beres, merepotkan saja. Tapi mereka seharusnya.. AAAHHHHH!!!!..”
omelanmu terputus saat melihat Kepala Lili dan Ken sudah terpisah dari tubuhnya
dalam keadaan telanjang bulat berdarah-darah.
“ HAH.. ADA APA INI? Teriakku
dalam hati. Aku melihat semua kotak tidur telah kosong. “ brengsek, semua
pasien melarikan diri. Aku harus segera ke ruang senjata” aku mengendap-endap
ke ruang senjata yang memang tidak jauh dari situ. Aku kembali sembunyi saat
sampai di ruang senjata. Terdengar derap banyak suara kaki. Aku beranikan
mengintip sedikit. Terlihat banyak pria telanjang bulat sedang memegang
senjata. “ tembak semua orang yang memakai seragam biru. Itu musuh kita” teriak
salah seorang dari mereka. Segera aku lepas seragamku sampai telanjang, supaya
mereka juga mengira aku adalah pasien juga.
Apa yang harus aku lakukan? Aku sendirian di pesawat ini
dengan 1.500 orang gila yang kebanyakan
adalah pasien penyimpangan sexual. Aku mulai menangis..
Aku harus segera meminta bala bantuan. Lanjut disini
1b.Aku harus segera mencari senjata. Lanjut disini






.jpg)
