12 Nov 2014

Jennifer - kerja

Baru sebulan lebih aku bekerja sebagai sekertaris di perusahaan ekspedisi yang lumayan besar dibandung. Perusahaan ini merupakan teman papa Nita. Pesannya aku disuruh disini dulu untuk mencari pengalaman. Baru nanti kalai sudah berpengalaman akan dipanggil ke perusahaan papa Nita. Memang perusahaan Papanya Nita jauh lebih besar daripada perusahaan tempatku bekerja sekarang. Yang juga sebagai nak perusahaan dari papanya Nita.
Sebagai anak baru banyak sekali karyawan-karyawan lama yang menggodaku. Aku bukan lagi si Jen yang pemalu, kurus dan bergaya tomboy. Tapi aku sekarang adalah Jennifer yang menarik, putih mulus dan mampu membuat menoleh seorang Pria. Aku sangat senang bisa bekerja di perusahaan ini. Selain bisa bantu mama. Disini aku juga bakal mendapatkan banyak pengalaman dalam hal bidang pekerjaan. Disamping itu teman-teman kerjaku juga baik-baik. Meski kadang-kadang suka agak keterlaluan menggodaku. Tapi masih aku anggap biasa saja.



Hari ini adalah hari terakhir atasanku ada di kantor ini, karena mulai besok beliau akan digantikan oleh orang baru yang dipilih oleh kantor pusat. Bossku memang mendapat promosi dari kepala cabang menjadi direktur di Jakarta. Padahal aku belum sampai dua bulan bekerja sebagai sekretaris di sini, sehingga selain harus beradaptasi dengan tempat kerja yang baru aku juga harus beradaptasi dengan boss baru. Di tempat kerjaku ini, aku adalah karyawan yang paling muda karena karyawan lainnya rata-rata 10 tahun lebih tua.


Calon boss yang baru juga sudah datang karena hari ini akan menjadi hari serah terima de facto dari boss lama ke boss yang baru. Ternyata boss baru ini masih muda, umurnya masih sekitar 29-30 tahun dengan badan yang tinggi besar dan cukup tampan. Pak Yanto adalah nama boss baruku itu, beliau sudah berkeluarga dengan dua anak ; seorang putri dan seorang putra.



Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan membawa moderenisasi dalam bekerja. Karyawan-karyawan yang asalnya terbiasa dengan kerja individual sekarang dipaksa kerja secara kolektif dalam suatu team work. Semua karyawan tanpa kecuali harus melek teknologi dan untuk itu boss baru tidak segan-segan turun sendiri mengajari. Sebagai sekretaris akupun banyak belajar dari beliau tetang berbagai hal dan karena aku adalah karyawan yang paling sering berinteraksi dengan beliau tentunya aku punya paling banyak kesempatan untuk belajar .

Pelahan-lahan mulai muncul rasa kagumku pada pak Yanto dan mulai mengidamkan mendapatkan jodoh seperti beliau atau mendekati kemampuan beliau. Berbeda dengan karyawan pria lain yang suka memandang rendah bahkan melecehkan sesama karyawan wanita, pak Yanto sangat santun kepada wanita baik itu karyawannya maupun bukan. Hal ini membuat muncul rasa sayangku pada pak Yanto karena aku merasa bisa berlindung kepada beliau.


Kombinasi rasa hormat, kagum dan sayang membuat aku merasa selalu ingin dekat dengan beliau, sehingga saat kami sedang berdua aku kadang-kadang bersikap agak manja dan kelihatannya beliau tidak keberatan. Lambat laun aku mulai melihat bahwa pak Yanto pun mulai merasa nyaman kalau dekat dengan aku. Walaupun demikian kesempatan kami bisa berdua hanya saat berada di kantor saja sehingga semua urusan adalah berkaitan dengan pekerjaan dan pak Yanto tidak pernah mencoba mengajakku keluar berdua selain karena urusan kantor.

Hingga pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Walaupun aku bukan peserta training, tapi sebagai wakil panitia aku harus menemani mereka berwisata ke sana. Seperti yang aku khawatirkan sebelumnya, sebagai wanita satu-satunya dimana peserta lainnya adalah pria, aku menjadi bulan-bulanan yang cenderung melecehkan.


Untung saja pak Yanto segera melihatnya sehingga bisa menarikku dan mengajakku pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung yang lain pun tidak bisa diandalkan untuk melindungi aku. Akhirnya aku pulang berduaan saja dengan pak Yanto dan pada kesempatan sepanjang perjalanan kembali ke Bandung kami manfaatkan untuk mengobrolkan hal-hal diluar perkerjaan bahkan ke hal-hal yang agak pribadi.

“Udah hampir sampai Bandung nih …” kata pak Yanto 
Enaknya ke mana dulu ya ?”
“Lho … kenapa ga langsung pulang ? ” Kataku keheranan 
“Bukankah bapak biasa ada acara bersama keluarga kalau malam minggu seperti sekarang ?”
“Saya sudah tanggung nih ijin pulang malam ke istriku untuk nemenin orang-orang tadi” jelas pak Yanto. Antara ragu-ragu apa benar Pak yanto ingin mengajakku jalan-jalan, senang karena sebenarnya aku juga ingin dekat dengan pak Yanto dan was-was karena bagaimanapun Pak yanto tetap suami orang. Semua perasaan itu campur aduk dalam hatiku.

Mau mampir ke cipanas dulu tidak? kata Pak Yanto menawariku. Meski diutarakan dengan sopan, tetap saja mengundang banyak pertanyaan di kepalaku.


Aku mau saja deh. Kapan lagi bisa punya kesempatan deket dengan Pak Yanto. Lanjut sini.






Maaf pak. Sebaiknya saya pulang kataku pada Pak Yanto. Lanjut sini.






Saya turun disini saja Pak kataku dengan setengah memaksa. Lanjut sini