Baru sebulan lebih aku bekerja sebagai sekertaris di perusahaan
ekspedisi yang lumayan besar dibandung. Perusahaan ini merupakan teman papa
Nita. Pesannya aku disuruh disini dulu untuk mencari pengalaman. Baru nanti
kalai sudah berpengalaman akan dipanggil ke perusahaan papa Nita. Memang perusahaan
Papanya Nita jauh lebih besar daripada perusahaan tempatku bekerja sekarang. Yang
juga sebagai nak perusahaan dari papanya Nita.
Sebagai anak baru banyak sekali karyawan-karyawan lama yang
menggodaku. Aku bukan lagi si Jen yang pemalu, kurus dan bergaya tomboy. Tapi
aku sekarang adalah Jennifer yang menarik, putih mulus dan mampu membuat
menoleh seorang Pria. Aku sangat senang bisa bekerja di perusahaan ini. Selain bisa
bantu mama. Disini aku juga bakal mendapatkan banyak pengalaman dalam hal bidang
pekerjaan. Disamping itu teman-teman kerjaku juga baik-baik. Meski kadang-kadang
suka agak keterlaluan menggodaku. Tapi masih aku anggap biasa saja.
Hari ini adalah hari terakhir atasanku ada di kantor ini, karena
mulai besok beliau akan digantikan oleh orang baru yang dipilih oleh kantor
pusat. Bossku memang mendapat promosi dari kepala cabang menjadi direktur di
Jakarta. Padahal aku belum sampai dua bulan bekerja sebagai sekretaris di sini,
sehingga selain harus beradaptasi dengan tempat kerja yang baru aku juga harus
beradaptasi dengan boss baru. Di tempat kerjaku ini, aku adalah karyawan yang
paling muda karena karyawan lainnya rata-rata 10 tahun lebih tua.
Calon boss yang baru juga sudah datang karena hari ini akan menjadi hari serah
terima de facto dari boss lama ke boss yang baru. Ternyata boss baru ini masih
muda, umurnya masih sekitar 29-30 tahun dengan badan yang tinggi besar dan
cukup tampan. Pak Yanto adalah nama boss baruku itu, beliau sudah berkeluarga
dengan dua anak ; seorang putri dan seorang putra.
Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan
membawa moderenisasi dalam bekerja. Karyawan-karyawan yang asalnya terbiasa
dengan kerja individual sekarang dipaksa kerja secara kolektif dalam suatu team
work. Semua karyawan tanpa kecuali harus melek teknologi dan untuk itu boss
baru tidak segan-segan turun sendiri mengajari. Sebagai sekretaris akupun
banyak belajar dari beliau tetang berbagai hal dan karena aku adalah karyawan
yang paling sering berinteraksi dengan beliau tentunya aku punya paling banyak
kesempatan untuk belajar .
Pelahan-lahan mulai muncul rasa kagumku pada pak Yanto dan mulai
mengidamkan mendapatkan jodoh seperti beliau atau mendekati kemampuan beliau.
Berbeda dengan karyawan pria lain yang suka memandang rendah bahkan melecehkan
sesama karyawan wanita, pak Yanto sangat santun kepada wanita baik itu
karyawannya maupun bukan. Hal ini membuat muncul rasa sayangku pada pak Yanto
karena aku merasa bisa berlindung kepada beliau.
Kombinasi rasa hormat, kagum dan sayang membuat aku merasa selalu ingin dekat
dengan beliau, sehingga saat kami sedang berdua aku kadang-kadang bersikap agak
manja dan kelihatannya beliau tidak keberatan. Lambat laun aku mulai melihat
bahwa pak Yanto pun mulai merasa nyaman kalau dekat dengan aku. Walaupun
demikian kesempatan kami bisa berdua hanya saat berada di kantor saja sehingga
semua urusan adalah berkaitan dengan pekerjaan dan pak Yanto tidak pernah
mencoba mengajakku keluar berdua selain karena urusan kantor.
Hingga pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai
tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua
peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Walaupun aku bukan peserta training,
tapi sebagai wakil panitia aku harus menemani mereka berwisata ke sana. Seperti
yang aku khawatirkan sebelumnya, sebagai wanita satu-satunya dimana peserta
lainnya adalah pria, aku menjadi bulan-bulanan yang cenderung melecehkan.
Untung saja pak Yanto segera melihatnya sehingga bisa menarikku dan mengajakku
pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung yang lain pun tidak bisa
diandalkan untuk melindungi aku. Akhirnya aku pulang berduaan saja dengan pak
Yanto dan pada kesempatan sepanjang perjalanan kembali ke Bandung kami
manfaatkan untuk mengobrolkan hal-hal diluar perkerjaan bahkan ke hal-hal yang
agak pribadi.
“Udah hampir sampai Bandung nih …” kata pak Yanto
“Enaknya ke mana dulu ya ?”
“Lho … kenapa ga langsung pulang ? ” Kataku keheranan
“Bukankah bapak biasa ada
acara bersama keluarga kalau malam minggu seperti sekarang ?”
“Saya sudah tanggung nih ijin pulang malam ke istriku untuk nemenin orang-orang
tadi” jelas pak Yanto. Antara ragu-ragu apa benar Pak yanto ingin mengajakku jalan-jalan,
senang karena sebenarnya aku juga ingin dekat dengan pak Yanto dan was-was karena
bagaimanapun Pak yanto tetap suami orang. Semua perasaan itu campur aduk dalam
hatiku.
“ Mau mampir ke
cipanas dulu tidak?” kata Pak Yanto
menawariku. Meski diutarakan dengan sopan, tetap saja mengundang banyak
pertanyaan di kepalaku.
Aku mau saja deh. Kapan lagi bisa punya kesempatan deket dengan
Pak Yanto. Lanjut sini.
“Maaf pak. Sebaiknya
saya pulang” kataku pada Pak
Yanto. Lanjut sini.
“Saya turun disini
saja Pak” kataku dengan setengah memaksa. Lanjut sini







