Aku berlari ketakutan menuju pintu yang menuju ruang
senjata. Mereka berlima mengejar. Aku coba mengambil dua pistol yang tergeletak
di lantai. Yang terambil hanya pistol bius. Aku teruskan berlari menuju pintu.
Seorang dari pria brutal itu mengambil pistol yang tertinggal, dan menembakkan
ke arahku. “ BLAAM..” punggungku terasa panas. Aku terjatuh, terasa sakit
sekali, tidak bisa berdiri lagi. Salah satu dari mereka mejambak rambutku dan
menyeret ku menuju tempat tidur. Aku berusaha melawan dengan pistol bius “
frsshhh” pria yang menjambakku terjatuh tidur. Mereka tetap saja tertawa.
Menjadikan aku seperti binatang buruan yang sudah mereka tangkap untuk segera
di masak.

Ada satu lagi mendekat, mencengkeram kakiku dan menyeretnya lagi.
Payudaraku sakit sekali bergesekan dengan lantai. Masih kugenggam pistol
biusku. Badanku yang berlumuran darah, dilempar ke tempat tidur. Satu lagi yang
paling besar diantara mereka mulai menindihku. Mengesek-gesekkan penisnya di
vaginaku yang berlumuran darah dari punggungku yang tertembak tadi. Sambil menarik keras rambutku dia remas-remas
payudaraku. Aku sudah sangat lemas sekali, mecoba mengumpulkan tenagaku
lagi. Aku tancapkan pistol biusku ke
leher pria yang menindihku. “ bruuk” pria itu tidur seketika diatasku. Aku
tertindih tubuhnya yang sangat berat. Aku hampir tidak bisa bernafas.
Temen-temannya masih tertawa-tawa keras melihat aku masih bisa melawan. Tubuh
pria itu diangkat oleh temannya. “ BLAAM” tembakan ke dua di perutku mengakhiri
segala perlawananku. Darah segar mengalir dari perut dan punggungku. Tempat
tidur bersimbah darah. Tapi mereka tidak berhenti, bahkan semakin buas. Mataku
gelap semua badanku terasa sangat sakit, dan menggigil kedinginan.
Sejenak kemudian kamu sudah tidak bernafas lagi, jantungmu
berhenti berdetak. Sungguh kematian yang tragis. Bahkan mereka tetap memperkosa
mayatmu yang bersimbah darah sambil tertawa-tawa. Dunia memang kejam.
--T A M A T--





