Aku tak kuasa menolak Nita.
"Iya.., oh.., enaaks... teruus..!" kataku sambil menekan kepalanya. Diberi semangat begitu, Nita semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung. Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Nita sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita. Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek klitorisku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar. Ketika jari itu menyentuh klitorisku yang mengeras, semakin asyik Nita memainkan klitorisku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku.
"Iya.., oh.., enaaks... teruus..!" kataku sambil menekan kepalanya. Diberi semangat begitu, Nita semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung. Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Nita sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita. Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek klitorisku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar. Ketika jari itu menyentuh klitorisku yang mengeras, semakin asyik Nita memainkan klitorisku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku.
Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah
tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang
vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda
rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat. Ketika tanganku menekan
bagian atas kepalanya, bibir Nita yang menghisap kedua putingku secara
bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Nita mengerti akan
keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan
wajahku. Tersungging senyuman yang manis.
"Mau yang lebih enak ga..?"
kata Nita. Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku dbiimbingnya untuk
duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen itu. Setelah aku
memposisikan sedemikian rupa, tangan Nita dengan cekatan membuka kedua pahaku
lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas.
Dengan posisi berlutut, Nita mendekatkan wajahnya ke
selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat
pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa
hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua
lubang hidung Nita. Tangan Nita kembali membelai vaginaku, menguakkan
belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.
Agak lama Nita membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku.
Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi
kegelian dan sedikit tertawa. Namun Nita terus saja melakukan itu. Hingga pada
suatu saat, "Eiist... aakh... aawh... Nitaaa... akh... mmhh...
ssh..!" begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika
mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku. Kedua tangan Nita memegangi
pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat. Kini ujung
lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah
itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan
di dalam vaginaku mengalir keluar. "Oohh... Niiitt... ennaakss...
bangeeet..!" begitu teriakku.
Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih.
Nita masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku
tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan
tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa
orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan
mendorongnya. Karuan saja wajah Nita semakin terpendam di selangkanganku.
"issepp... Niitt..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!" jeritku.
Nita berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang
kemaluanku. Maka..,
"Nitaaaa.. oohhh .., aku.. keluaar..! Oh.., aku..
keluar.. nikmaathhs.. ssh..!" bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun
mencapai orgasme. Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah
dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah
tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Nitapun
melepas hisapannya pada vaginaku. Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan
wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang
tersengal-sengal disumbat oleh mulut Nita yang menciumku. Kubalas ciuman
mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.
"Terimakasih ya Nit.., enak
sekali barusan..!" kataku sambil tersenyum. Nita pun membalas senyumanku.
Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.
"Kamu mau nggak
dikeluarin..?" kataku lagi.
"Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih
badanku. Sekarang mending kita mandi..!" jawabnya sambil menyalakan
shower.
“ Aku ga nyangka nit kamu suka sama cewek.. dan aku juga ga nyangka
aku juga bisa menikmatinya” kataku..
“tapi enak kaaann?”sahutnya.. aku
hanya tertawa nakal..
"Jeenn..! Ini baju tidurmu..!" begitu teriak nita dari
kamarnya. Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan
kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya
yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena
mungkin Nita tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.
"Masuk
sini Jen..!" kataya dari dalam kamar. Kudorong daun pintu kamarnya. Aku
melihat di dalam kamar itu tubuh Nita yang telanjang merebah di atas kasur.
Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka
kuhampiri tubuh telanjang itu. "Kamu belum pake baju, Nit..?" kataku
sambil duduk di tepi ranjang.
"Akh.., gampang... tinggal pake itu,
tuh..!" kata Nita sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang
berada di ujung ranjang. Lalu dia berkata lagi,
"Kamu sudah pake daleman,
ya..?" Aku mengangguk, "Iya..!" Kuperhatikan dadanya turun naik.
Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.
Lalu tangan Nita mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus
handuk itu sambil berkata, "Kamu mengairahkan sekali pakai ini..!"
"Akh.., masa sih..!" kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser
tubuhku lebih mendekat ke tubuh Nita.
"Benar.., kalo nggak percaya..,
emm..!" kata Nita sedikit menahan kata-katanya.
"Kalo nggak percaya
apa..?" tanyaku
"Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di
belakangmu... hi.. hi..!" katanya lagi.
Segera aku memalingkan wajahku ke
arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru
kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki
dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Aldi
pacar Nita. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari
dari ruangan ini. Namun tangan Nita lebih cepat menangkap tanganku lalu
menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang
empuk itu.
"Mau kemana.. Jeen.., udah di sini temani aku..!" kata Nita
setengah berbisik. Aku tidak sempat berkata-kata Aldi mulai bergerak berjalan
menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku..







