9 Nov 2014

Jennifer 1.a1

Aku tak kuasa menolak Nita.
"Iya.., oh.., enaaks... teruus..!" kataku sambil menekan kepalanya. Diberi semangat begitu, Nita semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung. Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Nita sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita. Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek klitorisku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar. Ketika jari itu menyentuh klitorisku yang mengeras, semakin asyik Nita memainkan klitorisku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku.

Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat. Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Nita yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Nita mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis. 
"Mau yang lebih enak ga..?" kata Nita. Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku dbiimbingnya untuk duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen itu. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Nita dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas.
Dengan posisi berlutut, Nita mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang. Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Nita. Tangan Nita kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang. 
Agak lama Nita membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Nita terus saja melakukan itu. Hingga pada suatu saat, "Eiist... aakh... aawh... Nitaaa... akh... mmhh... ssh..!" begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku. Kedua tangan Nita memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat. Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar. "Oohh... Niiitt... ennaakss... bangeeet..!" begitu teriakku.
Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Nita masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Nita semakin terpendam di selangkanganku. 
"issepp... Niitt..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!" jeritku. Nita berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku. Maka.., 
"Nitaaaa.. oohhh .., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!" bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme. Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Nitapun melepas hisapannya pada vaginaku. Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Nita yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang. 
"Terimakasih ya Nit.., enak sekali barusan..!" kataku sambil tersenyum. Nita pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu. 
"Kamu mau nggak dikeluarin..?" kataku lagi. 
"Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!" jawabnya sambil menyalakan shower. 
Aku ga nyangka nit kamu suka sama cewek.. dan aku juga ga nyangka aku juga bisa menikmatinya kataku.. 
tapi enak kaaann?sahutnya.. aku hanya tertawa nakal..

"Jeenn..! Ini baju tidurmu..!" begitu teriak nita dari kamarnya. Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Nita tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk. 
"Masuk sini Jen..!" kataya dari dalam kamar. Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Nita yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu. "Kamu belum pake baju, Nit..?" kataku sambil duduk di tepi ranjang. 
"Akh.., gampang... tinggal pake itu, tuh..!" kata Nita sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang. Lalu dia berkata lagi, 
"Kamu sudah pake daleman, ya..?" Aku mengangguk, "Iya..!" Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah. Lalu tangan Nita mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, "Kamu mengairahkan sekali pakai ini..!" "Akh.., masa sih..!" kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Nita. 
"Benar.., kalo nggak percaya.., emm..!" kata Nita sedikit menahan kata-katanya. 
"Kalo nggak percaya apa..?" tanyaku 
"Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu... hi.. hi..!" katanya lagi. 
Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Aldi pacar Nita. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Nita lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu. 
"Mau kemana.. Jeen.., udah di sini temani aku..!" kata Nita setengah berbisik. Aku tidak sempat berkata-kata Aldi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku..

Bila kamu turuti Nita lanjut disini 




Bila kamu marah sama Nita lanjut disini