Vito
Saat itu Aku jenuh banget. Kuliah memang kadang sangat melelahkan. Tugas, jadwal absen, kuliah tambahan dan lain-lain membuat pikiranku terforsir habis. Aku benar-benar butuh refreshing. Kebetulan temen-temenku berperasaan sama seperti aku. Kami kemudian menyusun rencana untuk pergi ke puncak. “ Sabtu besok berangkat yah” sahut susi. Kami bertiga Susi, Andri dan Aku berencana mengajak Kelvin sebagai temen cowok yang bisa Anter kami dan sekalian jagain. Kelvin adalah cowok Susi. Mereka sudah lama berpacaran. Sedangkan Andri merupakan cewek tercantik di antara kita. Andri sama kayak Aku, masih jomblo juga. Kita memang amat pemilih. Jangan-jangan malah dapet busuk nih kebanyakan milih.. hahahaha canda kami kadang-kadang.
Acara ke Puncak rencananya kami mulai dengan hang out disalah satu kafe terkenal di kota kami. Pas waktu Kelvin menjemput Kami, Aku kaget melihat Vito ada dalam mobil juga. “Girls.. aku ajak vito yah.. bête aku cowok sendirian sama kalian” kata Kelvin. Susi dan Andri tidak keberatan.
“WAH diluar planning nih” batinku. Biarlah toh ga ada yang keberatan juga. Cuma aku aja yang agak sebel sama vito. Karena godaannya yang lebay kalo lagi gombalin cewek. Di café vito juga berusaha ngedeketin aku. Susi sama Andri ketawa aja melihat tingkah Vito yang sedang bacain puisi buat aku. Duuh sebelnya..
Larut malam kami baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andri entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andri. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.
Emang dasar lelaki siapa aja dirayu. Andri juga ternyata diam-diam gampang horny juga dia. Adegan ciuman itu bertambah panas mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andri mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andri dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andri. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup celana dalam tipis berwarna hitam
Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun CD Andri. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andri dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.
"Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too"
Mendengar desahan Andri, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap vagina Andri dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andri, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.
Andri semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andri tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantungku berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.
Aku balik ke kamar aja deh, makin bête aku lihat mereka. Lanjut sini
Aku jadi pengen juga lihat mereka. Lanjut sini






.jpg)
