“Bentar yah Dik, bapak bersihin dulu punyamu ini” katanya seraya menempelkan mulutnya pada kerimbunan bulu-bulu kemaluanku.
“Sslluurrpp….sshhrrp” dijilatinya kemaluanku yang sudah basah itu. Bekas ethan dan bekas rabaan dari pak Irfan tadi, cairan pelicin vaginaku diseruputnya dengan bernafsu. Aku mendesis dan meremas rambutnya sebagai respon atas tindakannya.
Aaahhh… rasa nikmat saat Aldi, Nita dan ethan yang pernah jilatin vaginaku kembali datang. Tanpa terasa aku juga meremas-remas payudaraku sendiri. Vaginaku dihisapinya selama lima menitan , setelah puas aku disuruhnya naik ke pangkuannya dengan posisi berhadapan. Kugenggam penisnya dan kuarahkan ke lubang vaginaku yang sudah basah tadi, setelah rasanya pas kutekan badanku ke bawah sehingga penis beliau tertancap pada vaginaku. Sedikit demi sedikit aku merasakan ruang vaginaku terisi dan dengan beberapa hentakan masuklah batang itu seluruhnya ke dalamku. “Oohhh… eehhmmm.. “ aku bergumam pelan merasakan sodokan penis pak Irfan yang bergesek dengan dinding vaginaku. Jujur meski sedikit jijik aku mulai menikmati nya.
Hamper 10 menit lamanya kami berpacu dalam gaya demikian berlomba-lomba mencapai puncak. Mulutnya tak henti-henti mencupangi payudaraku yang mencuat di depan wajahnya, sesekali mulutnya juga mampir di pundak dan leherku. Akupun akhirnya tidak tahan lagi dengan memuncaknya rasa nikmat di selangkanganku, gerak naik turunku semakin cepat sampai vaginaku kembali mengeluarkan cukup banyak cairan pertanda mau orgasme.
“ aahh.. aahh.. paakk.. aku mau keluarrr.. eehhmmm” lenguhku pelan. Aku percepat goyanganku. “ahh.. ahh. Uuhhhh.. aku keluarrrr..” crroot.. croot.. vaginaku langsung dibanjiri madu orgasmeku yang membasahi penis pak Irfan dan daerah selangkangan kami. Semakin lama goyanganku semakin lemah, sehingga tinggal beliau saja yang masih menghentak-hentakkan tubuhku yang sudah lemas di pangkuannya. Kemudian beliau melepaskanku juga dan menyuruh menyelesaikannya dengan oral saja.
“ haah.. gimana caranya?” pikirku. Aku bingung. Tapi berhibung sudah janji aku turuti. Aku masih lemas dan duduk bersimpuh di lantai di antara kedua kakinya, kugerakkan tangan kananku meraih penisnya yang belum ejakulasi. Benda itu, juga bulu-bulunya basah sekali oleh cairanku yang masih hangat. Aku membuka mulut dan mengulum sebisanya.
Seiring dengan tenagaku yang terkumpul kembali kocokanku pun lebih cepat. Hingga 3 menitan akhirnya batang itu semakin berdenyut diiringi suara erangan parau dari mulutnya.
“aahhh.. diik.. aku mau keluaar.. jangan lepasiiin “ teriak pak Irfan sambil menjambak pelan rambutku. Sperma itu menyemprot langit-langit mulutku, disusul semprotan berikutnya yang semakin mengisi mulutku, rasanya hangat dan kental dengan aromanya yang membuatku pingin muntah. Tapi Inilah saatnya menjajal teknik oralku, aku berkonsentrasi menelan dan mengisapnya berusaha agar cairan itu tidak terbuang setetespun. Setelah perjuangan yang cukup berat akhirnya sempotannya makin mengecil dan akhirnya berhenti sama sekali. Belum cukup puas, akupun menjilatinya sampai bersih mengkilat, perlahan-lahan benda itu melunak kembali. Bibir sampai daguku basah oleh sperma Pak Irfan. Tapi Akupun berhasil membuat Pak Irfan mendapatkan pengalaman luar biasa. Dia bersandar pada sofa dengan nafas terengah-engah dan mengibas-ngibaskan leher kemejanya.
“ kamu bener-bener hebat dik.. aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya” kata pak Irfan.
“ inget janji pak Irfan yah.." sambil bergelayut mesra pada lehernya. Dalam hati meski aku menikmatinya tapi aku bener-bener tidak akan mau bila tidak terpaksa.
“ tentu, jangan kuatir” sahut pak Irfan masih lemas. Setelah merasa segar kami kembali memakai pakaian masing-masing. Aku matiin perekam handphone ku dan pamit pada pak Irfan. Aku segera pergi dengan sedikit merasa jijik di iringi dengan senyum kemenangan Pak Irfan si dosen centil itu.
Hari-hari kuliahku setelah itu menjadi lancar. Pak Irfan mengaku aku sebagai keponakannya pada dosen-dosen lainnya, sehingga aku mendapatkan keistimewaan di kampus. Ethan tidak berani mendekati aku lagi. Dan kami tidak lagi bertegur sapa. Aku jadi semakin populer. Tapi aku tidak mau menjalin hubungan dengan pria-pria dikampusku. Karena aku yakin mereka sama saja dengan ethan dan pak Irfan. Semuanya brengsek..!! selama kurang dari tiga tahun aku lulus dengan nilai memuaskan. Pengorbanan yang sangat besar buatku. Sama seperti saat smu, Aku kembali rangking lima besar di kampusku
Dengan nilai sebagus ini aku bebas untuk memilih pekerjaan mana yang akan aku jalani. Aku memikirkan mama pasti bangga denganku. Dan aku bisa membantu mama dalam mensejahterakan keluarga. Saat ini aku mendapatkan tawaran kerja dari berbagai instansi. Aku jadi bingung sendiri untuk memilih dimana aku akan memantapkan masa depanku. Semoga aku tidak salah pilih. nanti di kemudian hari..
-- T A M A T--






.jpg)