16 Nov 2014

1b1

Aku baru ingat bila semua senjata di ruang senjata tidak ada pelurunya semua. Demi keselamatan kami menyimpan semua peluru di command centre. Teringat akan hal itu, aku berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke belakang. 
“ heeiiii..!!” teriak orang yang meodongku tadi.  Aku begitu takut. Pintu command centre sudah terlihat. Dengan mengendap-endap dan tetap menggenggam erat pistol tidurku,  aku buka pintunya perlahan-lahan. Hatiku berdebar-debar saat melihat ada dua gadis remaja telanjang bulat seperti aku sedang memencet-mencet tombol di tempat kemudi. Aku tutup pintu pelan-pelan dan menguncinya. Mereka berdua menoleh kepadaku. Ternyata mereka kembar. 
“ hai..” mereka menyapaku dengan ramah. Aku tersenyum pada mereka. “ apakah anda professor Luna” Tanya mereka lagi. “ eeehh.. ya” sahutku sekenanya. 
“ please wait” sahutku lagi. Aku menuju kea rah monitor yang menyimpan data semua pasien. Aku mencari data dengan kata kunci “ kembar “.



Claudia dan cintia. Gadis remaja Adik kakak kembar. Menjadi gila setelah diperkosa oleh gurunya sendiri. Membuatnya menjadi sepasang lesbian, saling mencintai satu sama lain. Mereka sangat takut pada seorang guru.  
“eehhmm.. aku ada ide” gumamku dalam hati. Aku ikat rambutku ke atas semua sehingga menjadi seperti seorang guru. Aku kembali pada mereka. Aku melihat mereka sedang berciuman. Kuberanikan diri untuk membentak mereka. 
“ Hai.. mengapa kalian tidak belajar? “ bentakku. Mereka berdua kaget dan bersiap-siap untuk lari. “ kalian mau saya hukum?” bentakku lagi. “ tidak professor luna, tolong jangan hokum kami, kami belum melakukan apa-apa” jelas mereka karena ketakutan . 
“ Ok.. cium saudarimu dan bercintalah di depanku” kataku. Mereka mengangguk dan melanjutkan  ciuman mereka tadi. Aku tertawa dalam hati.

Ciuman mereka makin panas, bahkan Claudia mulai meraba-raba pangkal paha saudarinya. “assshhh..”Cintia terlihat tidak kuat lagi menahan nikmat, kemudian tidur terlentang di lantai. Sekarang Claudia malah melahap vagina cintia dengan lidahnya. Posisi mereka sekarang menjadi 69. Claudia dan cintia sama-sama menjilati vagina saudarinya yang basah. 
“ehhmm..  mmhhfft” desah mereka saling menikmati. Cintia yang berteriak orgasme duluan “ ahhh.. aku sudah keluar professor” jerit cintia. Mulut Claudia belepotan cairan orgasme cintia. 
“ OK cintia sekarang kamu cium ini, rasakan kenikmatannya yang bisa membuatmu pingsan keenakan”. Kataku tegas sambil mengacungkan moncong pistol tidurku. 
“ apapun yang anda inginkan professor”  sahut cintia. “mmmpp.. chup.. tressshh..” cintiapun tertidur. “ sekarang giliranmu Claudia, masukkan ini ke vagina dan nikmatilah” sahutku sambil mengulurkan pistol tidurku. 
“ ohh.. terima kasih professor” sahutnya kegirangan. Sejenak kemudia Claudia memasukkan moncong pistol tidur ke dalam vaginanya. Pahanya dibuka lebar-lebar, moncong pistol tidur dikocokmasuk keluar dalam liang kemaluannya. Makin lama makin cepat. Sampai terdengar jeritan Claudia merasakan orgasme. Vaginanya membanjir. Aku tarik pelatuk pistol tidurnya. Claudia terkulai seketika.

Kepatuhan buta Claudia dan cintia kepadaku yang di anggap sebgai professornya membuatku merasa terangsang juga. Vaginaku pun juga terasa basah. Tanpa sadar aku merabanya. 
“ ehmm.. seandainya kita bertemu di kondisi berbeda.” Pikirku. “ teeet.. teet.. teeet..” tiba-tiba alarm berbunyi nyaring. Ternyata Claudia dan cintia tadi secara tidak sengaja mengaktifkan self distruction atau peledakan sendiri pada pesawat. “ 60 detik untuk evakuasi “ computer memperingatkan dengan nyaring.. jantungku berdebar keras.
“ apakah aku masih sempat membatalkannya” pikirku.


Pasti tidak akan sempat. Aku segera berlari menuju kapsul penyelamat. Lanjut disini





Pasti masih sempat. Aku hafal kodenya. Lanjut disini