Aku baru ingat bila semua senjata di ruang senjata tidak ada
pelurunya semua. Demi keselamatan kami menyimpan semua peluru di command
centre. Teringat akan hal itu, aku berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh
ke belakang.
“ heeiiii..!!” teriak orang yang meodongku tadi. Aku begitu takut. Pintu command centre sudah
terlihat. Dengan mengendap-endap dan tetap menggenggam erat pistol tidurku, aku buka pintunya perlahan-lahan. Hatiku
berdebar-debar saat melihat ada dua gadis remaja telanjang bulat seperti aku
sedang memencet-mencet tombol di tempat kemudi. Aku tutup pintu pelan-pelan dan
menguncinya. Mereka berdua menoleh kepadaku. Ternyata mereka kembar.
“ hai..”
mereka menyapaku dengan ramah. Aku tersenyum pada mereka. “ apakah anda
professor Luna” Tanya mereka lagi. “ eeehh.. ya” sahutku sekenanya.
“ please
wait” sahutku lagi. Aku menuju kea rah monitor yang menyimpan data semua
pasien. Aku mencari data dengan kata kunci “ kembar “.
Claudia dan cintia. Gadis remaja Adik kakak kembar. Menjadi
gila setelah diperkosa oleh gurunya sendiri. Membuatnya menjadi sepasang
lesbian, saling mencintai satu sama lain. Mereka sangat takut pada seorang
guru.
“eehhmm.. aku ada ide” gumamku
dalam hati. Aku ikat rambutku ke atas semua sehingga menjadi seperti seorang
guru. Aku kembali pada mereka. Aku melihat mereka sedang berciuman. Kuberanikan
diri untuk membentak mereka.
“ Hai.. mengapa kalian tidak belajar? “ bentakku.
Mereka berdua kaget dan bersiap-siap untuk lari. “ kalian mau saya hukum?”
bentakku lagi. “ tidak professor luna, tolong jangan hokum kami, kami belum
melakukan apa-apa” jelas mereka karena ketakutan .
“ Ok.. cium saudarimu dan
bercintalah di depanku” kataku. Mereka mengangguk dan melanjutkan ciuman mereka tadi. Aku tertawa dalam hati.
Ciuman mereka makin panas, bahkan Claudia mulai meraba-raba
pangkal paha saudarinya. “assshhh..”Cintia terlihat tidak kuat lagi menahan
nikmat, kemudian tidur terlentang di lantai. Sekarang Claudia malah melahap
vagina cintia dengan lidahnya. Posisi mereka sekarang menjadi 69. Claudia dan
cintia sama-sama menjilati vagina saudarinya yang basah.
“ehhmm.. mmhhfft” desah mereka saling menikmati.
Cintia yang berteriak orgasme duluan “ ahhh.. aku sudah keluar professor” jerit
cintia. Mulut Claudia belepotan cairan orgasme cintia.
“ OK cintia sekarang
kamu cium ini, rasakan kenikmatannya yang bisa membuatmu pingsan keenakan”.
Kataku tegas sambil mengacungkan moncong pistol tidurku.
“ apapun yang anda
inginkan professor” sahut cintia.
“mmmpp.. chup.. tressshh..” cintiapun tertidur. “ sekarang giliranmu Claudia,
masukkan ini ke vagina dan nikmatilah” sahutku sambil mengulurkan pistol
tidurku.
“ ohh.. terima kasih professor” sahutnya kegirangan. Sejenak kemudia
Claudia memasukkan moncong pistol tidur ke dalam vaginanya. Pahanya dibuka
lebar-lebar, moncong pistol tidur dikocokmasuk keluar dalam liang kemaluannya.
Makin lama makin cepat. Sampai terdengar jeritan Claudia merasakan orgasme.
Vaginanya membanjir. Aku tarik pelatuk pistol tidurnya. Claudia terkulai
seketika.
Kepatuhan buta Claudia dan cintia kepadaku yang di anggap
sebgai professornya membuatku merasa terangsang juga. Vaginaku pun juga terasa
basah. Tanpa sadar aku merabanya.
“ ehmm.. seandainya kita bertemu di kondisi
berbeda.” Pikirku. “ teeet.. teet.. teeet..” tiba-tiba alarm berbunyi nyaring.
Ternyata Claudia dan cintia tadi secara tidak sengaja mengaktifkan self
distruction atau peledakan sendiri pada pesawat. “ 60 detik untuk evakuasi “
computer memperingatkan dengan nyaring.. jantungku berdebar keras.
“ apakah aku
masih sempat membatalkannya” pikirku.
Pasti tidak akan sempat. Aku segera berlari menuju
kapsul penyelamat. Lanjut disini
Pasti masih sempat. Aku hafal kodenya. Lanjut disini







