Daripada aku diperkosa oleh mahluk-mahluk biadab itu sampai
mati, lebih baik mereka yang mati duluan. “ aku bunuh kalian semua!!” teriakku.
Aku raih pistol didekatku dan mulai menembakkan pada mereka. “ blam.. blam”
mereka berlari berlindung di balik pintu. Salah satu peluru yang aku tembakkan
mengenai kaca pesawat dan mengakibatkan kaca itu retak. “ hai dok.. bagaimana
bila kaca ini kita pecah saja dan kita mati bersama” teriak mereka di sambut
tawa keras. Mereka mulai memukul-mukul
kaca itu dengan senjata mereka. Aku lari kearah command centre. Tapi terlambat
kaca itu sudah pecah dan udara terhisap keluar. Semua barang dan manusia di
ruangan itu melayang-layang menuju jendela yang pecah. Aku berhasil memegang
sebuah meja besar untuk menahan hisapan udara.
.jpg)
Wanita cantik dan pria botak itu melayang-layang di udara,
meluncur menuju jendela pecah. Dan dengan kerasnya menubruk jendela itu.
Kacanya pecah berkeping-keping. Lubang di kaca semakin besar. Sedotan udara
semakin kencang. Aku sudah tidak kuat untuk menahan peganganku. Giliran
pria-pria sangar yang memecahkan jendela tadi terangkat dan satu persatu
tersedot keluar dari pesawat. Sambil tertawa mereka semua mati diluar angkasa.
Kepalaku terasa sangat berat saat sofa yang tadi kami buat
untuk bercinta menghantam keras di kepalaku, lalu mengahantam jendela. Lubang
di jendela sudah sebesar pintu. Semua
barang berputar-putar. Peganganku terlepas. Aku berteriak keras menyesali
nasibku yang harus mati dengan cara seperti ini. Gelap mengiringiku menuju
penciptaku..
--T A M A T—





