Felix
Cowok yang tidak terlalu tinggi, hampir sepantaranku, berkacamata dan pipinya agak tembem dengan kulit sawo matang. Wajah sih tidak ganteng-ganteng amat, malah cenderung culun apalagi dengan kacamata bingkai tebalnya itu. Sifatnya juga tertutup dan kuper, tidak biasa gaul dengan cewek, kalau bertemu di perpustakaan, kantin atau di areal kampus lainnya pasti sendirian atau minimal bersama 1-2 temannya yang cowok. Aku juga jadi teringat saat Aku masih smu dulu.
Felix berasal dari Padang dan nge-kost di di sekitar kampus ini juga sama seperti aku.
Dalam prestasi dia memang biasa-biasa saja, IPK-ku jauh lebih tinggi darinya. Namun dia mempunyai sebuah bakat yang menonjol yaitu menggambar, terutama menggambar manusia wajah dan proporsi tubuhnya pas sekali, Aku tahu hal ini karena seringkali kalau kuliahnya boring dia sembunyi-sembunyi menggores-goreskan pensil pada kertasnya, di organizernya juga terselip beberapa hasil karyanya. Pernah suatu kali saking asyiknya menggambar dia tidak sadar kalau si dosen sedang berjalan di dekatnya, dan mengambil kertasnya dan mengamat-amati gambarnya lalu berkata
“Wah..wah anda ini lagi jatuh cinta sama siapa ya, sampai dibawa-bawa ke gambar begini, siapa nih di sini yang rambut panjang dengan kucir ke belakang” sambil memperhatikan semua mahasiswi di kelas ini.
Kontan satu kelas termasuk aku tertawa-tawa dan saling menunjuk siapa yang di dalam gambar itu, wajahnya jadi memerah karenanya. Kalau saja dosennya killer pasti dia sudah dikotbahi macam-macam atau bisa juga disuruh keluar, untung Bu Yani (si dosen itu) tidak segarang itu, beliau cuma menyindir dan menegurnya namun beliau juga memuji gambarnya itu bagus.
Suatu hari pada mata kuliah American Culture and Institution yang dosennya ‘obat tidur’ aku duduk di belakang dan kebetulan Felix juga di sebelahku sehingga bisa ngobrol dengannya dengan suara pelan.
" hai." sapaku pada Felix. Dia tersenyum padaku.
"gambar kamu bagus " kataku memulai obrolan.
“Eh…yang ini bagus nih, mirip aslinya, Vivian Hsu kan ?” tunjukku pada salah satu gambarnya
“Iya hehehe, modelnya langsung dari orang aslinya tuh” katanya sambil nyengir
“Ciee…mimpi kali yee !” balasku menyikutnya pelan
“Kamu pernah pakai model asli untuk gambar-gambar Kamu Lix ?” tanyaku lagi
“Emmm…pernah sih dulu saudaraku, tapi kebanyakan sih aku ambil dari foto ya, abis susah kan cari model”
“Kalau menggambar sampai selesai gini habis waktu berapa lama kira-kira ?”
“Itu tergantung mood juga sih, tapi rata-rata sih setengah jam lah”
“Gini Lix, kalau gua jadi model kamu boleh? pengen sih sekali-sekali dilukis gitu, gimana ?” Buset. Aku kok jadi ngawur gini. kataku dalam hati.
“Wah, beneran nih ? thanks banget kalau kamu mau, kapan kamu ada waktu ?”
“Aku sih abis ini ga ada apa-apa lagi, kamu sendiri gimana ?”
“Ooo…bagus kalau gitu di kost gua aja gimana ?” jawabnya antusias dengan tawaranku. Sialan.. aku jadi kayak cewek murahan gini yah. batinku.
setelah selesai perkuliahan yaitu jam sebelas, aku mengikutinya ke kostnya, dari kampus kami jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tidak banyak orang di sana, mungkin karena pada jam-jam seperti ini masih banyak yang kuliah, hanya nampak seorang anak muda sebagai pembantu, seorang ibu setengah baya yang juga pembantu dan dua orang penghuni kost lainnya yang semua pria. Kamar Felix bisa dibilang cukup rapi dibanding kamar pria pada umumnya.
Aku disuguhin baso langganan Dia yang emang lumayan enak banget. Kami makan sambil ngobrol-ngobrol. Emang felix ternyata masih culun banget sebagai cowok. Aku berpikir bila aku pacaran sama dia pasti aku yang bakal mendominasi. Aku jadi makin berani.
"eh lix.. kamu jadi mau lukis aku tidak?" kataku setelah menghabiskan mangkuk basoku.
" Ayo deh kita mulai sekarang" sahutnya.
"Tapi lix.. aku mau dilukisnya beda yah" kataku penuh misteri.
" Beda gimana" katanya sambil menyipitkan mata.
Felix menganga mulutnya serta pipinya yang agak tembem itu semburat kemerahan.
Aku tertawa tertahan melihat reaksi amatirannya itu. Aku mulai melucuti satu demi satu pakaianku. Matanya seperti mau copot memandangku yang sudah telanjang di depannya, dari reaksinya aku yakin dia baru kali ini melihat perempuan bugil secara langsung.
Dia duduk di kursi seberang ranjang sambil memegang clipboard. Sebelum mulai dia minum dulu untuk menenangkan diri. Lewat lima menit, dia geleng-geleng kepala melihat kertasnya, lalu ditariknya kertas itu dan diremas-remas.
“Kenapa Lix ? gagal ?” tanyaku
“Sory jen, belum biasa sih jadi ga bagus tadi, sekali lagi yah, sory ngerepotin”
“Ya udah, santai aja, lama-lama juga biasa kok”
Kali ini sepertinya dia sudah lebih enjoy melakukan aktivitasnya, tangannya bergerak dengan cepat diatas kertas, mengganti-ganti pensil, mengambil kapas dan penghapus, ibarat Leonardo yang melukis bugil Kate Winslet di film Titanic itu. Akupun semakin tenang sebagai model felix.
lima puluh enam menit kemudian,
Aku mengamat-amati gambar itu sejenak, harus kuakui hasilnya lumayan, walaupun mukaku terlihat lebih lebar di gambar itu, namun secara keseluruhan sudah ok. Aku tahu dia terus memandangi tubuh polosku sejak tadi, tapi kubiarkan saja dia menikmatinya sambil aku melihat gambarnya.
“Ada pikiran macam-macam kan pas ngelukis aku tadi ?” pancingku lagi
“Emmm…macam-macam gimana ?” tanyanya pura-pura bego atau memang bego nih, ga taulah, who care, lucu juga aku dengan tingkahnya ini
“ Sekarang belajar bareng yuk lix” seraya kuraih tangannya dan kuletakkan pada payudara kiriku.
Terasa sekali tangannya gemetaran memegang dadaku, mulutnya melongo tak sanggup berkata-kata dan mukanya tambah merah saja. Kubimbing tangannya meremas-remas payudara montokku.
“Mmhh…gitu remasnya, pakai perasaan…putingnya juga”
Dia menuruti apa yang kuajarkan walau masih diam terbengong. Setelah gemetarnya berkurang aku memulai aksi terusannya, kudekatkan bibirku padanya hingga saling berpagutan.
“Mulutnya dibuka Lix, jangan kaku gitu, gua ajarin lu cipokan” bisikku dengan nada manja
Dengan agresif lidahku menjelajahi mulutnya, menyapu ke segenap penjuru, menjilati lidahnya mengajak ikut bermain sehingga pelan-pelan lidahnya juga mulai aktif mengimbangiku. Tangannya pun tanpa kubimbing lagi sudah menikmati payudaraku dengan lebih semangat, bahkan kini dia lebih berani menjulurkan tangan satunya ke belakangku dan mengelusi punggungku.
Aku tidak menyangka jadi seberani ini sama cowok. Mungkin aku jadi percaya diri karena felix orangnya culun dan Dia pasti tidak akan menolakku. yang merupakan cewek lumayan populer di kampus.
Dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depanku yang duduk di pinggir ranjang. Kulucuti celananya tanpa menghiraukan reaksinya yang malu-malu, terutama ketika akan kubuka celana dalamnya. Aku melihat penisnya yang sudah tegang lalu kugenggam dengan jari-jari lentikku. Tangannya mulai berani menyusuri lekuk-lekuk tubuhku,
pantatku yang sekal dia elus-elus sambil meremas payudaraku. Kuraih telapak
tangannya yang lagi mengelus pantatku dan menggiringnya ke vaginaku.
Kamu yakin akan melanjutkan ini ?







