12 Nov 2014

Jennifer 1a 1b1

Tiba-tiba Nita mendorong tubuhku dan berguling ke samping, kini posisi kami bertukar menjadi dia yang menindihku.  Setengah menit kami berpelukan erat dengan mata saling tatap, Nita cantik sekali. kemudian kurasakan suatu gesekan pada bibir vaginaku yang membuatku mendesah secara refleks. 

Ternyata Nita mengelus vaginaku dengan pahanya. Aku membuka pahaku lebih lebar agar klitorisku juga merasakan belaian lembut itu. Gesekan itu membuatku menggelinjang, belum lagi sekarang Nita sudah mulai menciumi telingaku. Hembusan nafas ditambah permainan lidahnya pada lubang dan daun telingaku menghanyutkanku lebih dalam. 

“Eemmhh.. Nitaa.. Mm!” desahku dengan mata terpejam. 

“ kalau yang seperti ini kamu suka kan” katanya berbisik di telingaku. yang aku balas dengan anggukan pelan.

Ciumannya merambat turun ke leherku, ssrr.. Lidahnya menyapu telak leher jenjangku disusul gigitan pelan dan cupangan yang dilakukannya dengan lembut dan mesra. Tangan kirinya menangkap payudaraku dan meremasnya lembut, jari-jarinya yang lentik menyentil-nyentil putingku hingga membuatnya makin tegang. Dari leher mulutnya turun lagi ke dadaku, lidahnya menjilati putingku yang kanan sementara tangan kirinya tetap memijat payudara kiriku. 

Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dijilati dan diremas oleh Nita. 

Tangan kanannya kini bercokol di kemaluanku menggantikan pahanya, jarinya membelai lembut diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Dua jari lainnya masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, semakin gencarlah dia memainkan benda itu sehingga tubuhku makin tak terkendali dengan mendesah dan menggeliat-geliat. Butir-butir keringat seperti embun sudah membasahi dahiku dan wajahku makin merah menandakan betapa terangsangnya aku. Kugerakkan tanganku ke bawah meraih payudaranya dan meremasinya sebagai respon perbuatannya. 

Jilatan Nita turun lagi ke pusar yang dia jilati sebentar membuatku tertawa kecil karena geli, kemudian turun lagi mencapai vaginaku. Diperhatikannya sejenak kemaluanku sambil mengelus bulunya yang lebat. Kedua jarinya membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya. Darahku makin bergolak ketika dia mulai membenamkan wajahnya ke daerah itu. Aahh.. Desisku begitu lidahnya menyentuh bibir vaginaku. 

Aku menggelinjang hebat merasakan Nita seperti mempunyai seribu lidah yang bergerak liar seperti ular merangsang setiap titik peka pada vaginaku. Sebagai seorang wanita, dia tahu betul bagaimana memanjakan tubuh wanita secara seksual. 

Aku sungguh menikmati permainan oralnya. Kedua pahaku merapat mengapit kepalanya menahan rasa geli. Otomatis pinggulku ikut bergoyang akibat rangsangan itu, Nita memegangi pinggulku untuk menahan guncangan agar tak terlalu keras. Birahiku pun makin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat. Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmeku, tubuhku mengejang dengan tangan kiri meremas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepalanya lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap-hisap kuat olehnya, melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana. Aku keluar untuk yang kedua kalinya oleh Nita.

“Oohh.. Nittt.. enak bangeeettts.. Aahh.. Akh!” erangku dengan mata merem-melek sambil meremas rambutnya. 

Lalu Nita pun mengangkat wajahnya dan kembali naik ke tubuhku, pada mulutnya yang belepotan cairan kewanitaanku itu tersungging sebuah senyum. 

“ Itu tadi buat permintaan maafku, sekarang giliran kamuu yah?” desahnya dekat wajahku. 

Aku cuma mengangguk dengan nafas masih kacau. Diciumnya bibirku dan kubalas dengan tak kalah bernafsu. Aroma vaginaku masih terasa tajam pada mulutnya, kami ber-French kiss sambil menikmati sisa-sisa cairan kemaluanku. 

Setelah tenagaku terkumpul aku mencoba membalikkan tubuhnya hingga dia telentang di sebelahku. Kubelai rambut dan wajahnya sambil mendekatkan wajahku padanya. Putingnya yang terjepit diantara jariku kupencet dan kuplintir menyebabkan dia mendesah, saat itulah aku mencium bibirnya yang terbuka. Lidahnya kukulum dalam mulutku sambil menggerayangi payudaranya. Ratna menggeliat-geliat saat lehernya merasakan jilatan dan cupanganku, di saat yang sama tanganku sibuk memilin-milin kedua putingnya yang sudah keras. Nita mengerang, Birahinya semakin tinggi.
" ugghhmm.. eehmmm.. ehmm"

Erangannya justru membuatku makin bergairah mengenyot kedua payudaranya secara bergantian. Selanjutnya aku mulai menjilati semua bagian tubuhnya. Leher dan pundaknya kusapu dengan lidah, kedua tangannya kurentangkan ke atas sehingga aku bisa menjilati ketiaknya yang bebas bulu. 

“Oohh.. Ampun Jeenn.. Geli..!” desahnya bercampur tawa kegelian, tubuhnya pun terhentak-hentak. 

Aku terus menjilati ke bagian dada, perut, hingga sampai pada kemaluannya. Bulu-bulunya agak jarang, tidak selebat milikku, serta bentuknya dicukur rapih. Tanpa buang waktu lagi aku langsung menjilati belahannya dan menggesek-gesek klitorisnya dengan jariku, perbuatanku ini spontan membuatnya menggelinjang hebat. 


“Aahh.. Gila.. Uuhh.. Uhh.. Disitu enak enak bangeeet jeeenn!” demikian desah Nita. 

Lidahku menyusup lebih dalam menjilati dinding kemaluan dan klitorisnya, semakin kujilat semakin basah daerah itu. Klitorisnya kutangkap dengan mulut dan kuhisap sehingga pemiliknya makin berkelejotan tak karuan. hanya tiga menit aku sapu vagina Nita dengan lidahku, Nita sudah tidak kuat menahan birahinya.

“Jen. udaaah.. aku keluaaaar!” erangnya lebih panjang seiring dengan mengejangnya tubuhnya. 

Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak serta merta kujilati seperti orang kehausan. 

Nita kembali melemas sementara aku masih saja menjilati tubuhnya sampai 2-3 menit ke depan. Akhirnya kamipun tergolek bersebelahan.

Sejak saat itu Aku semakin sayang sama nita. Meski Nita masih jalan sama Aldi, tapi Nita tetap sayang denganku. Aku sekarang benar-benar sudah menjadi lesbian.





-- T A M A T --