Dengan tubuh telanjang seperti pasien lainnya kamu masuk
ruang senjata setelah mereka semua pergi. “ gila, mereka ambil semua
senjatanya” ujarmu lirih sambil melongo melihat sudah tidak ada senjata lagi
yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri.
“tenang saja, masih ada aku”
terdengar suara parau dibelakangku. Begitu aku menoleh, aku melihat seseorang
yang hitam dan sangat besar seperti hulk. Bedanya ini berwarna hitam, tapi
rambut dia coklat keemasan. Dan oohh
noooo… dia mempunyai penis sebesar tanganku dan itupun masih belum berdiri,
bergelantungan di pangkal pahanya.
“ kemari datanglah pada pelukanku cantik,
marilah kita saling mencintai dengan menyatukan gairah kita” kata monster itu
berpuitis sambil berusaha memelukmu.
“ Pergi bajingan!!” teriakmu. Monster
berhenti, senyumnya berganti kemarahan. Tiba-tiba leherku sudah berada dalam
genggamannya dan dengan tetap mencekikku dia angkat aku keatas dengan
entengnya.
“ Jangan berkata seperti itu!!.. aku benci kata-kata kotor, karena
itu merusak puisi tentang cinta” teriaknya parau menggema di seluruh ruangan.
“
ok.ok.. maafkan aku.. eekkk” ujarku bersusah payah bicara dalam cekikannya.
“itu jauh lebih baik cintaku” ujarnya sambil memutar tubuhku membelakanginya,
oohhh penisnya menempel di vaginaku dan penis itu sudah berdiri sekarang!.. aku
ditidurkan di meja senjata dengan posisi nungging dan tangannya masih
mencengkeram leherku.
Penis hitam dengan dengan panjang tidak kurang dari 30cm dan
sangat gemuk itu berusaha dimasukkan ke vaginaku. Aku sangat ngeri membayangkan
bila batang penis itu menjebol vaginaku “arrrgghhhh… hentikan bangsat!!” teriakku kesakitan saat ujung
penis itu dipaksakan masuk ke vaginaku.
“OHH.. EHHMM, kalau masih ingin tetap hidup, aku hanya ingin mendengarmu
menikmatinya” teriaknya sambil mengeraskan cekikannya.
“ aahh.. aahhh” ujarku
pelan menuruti dia.
“aah aku mau keluar cintaku” teriaknya. Saat aku menoleh ke
arah kanan Aku melihat sebuah pistol tidur tergeletak di balik kotak peluru.
Penis monster itu meleset dari vaginaku karena tidak bisa masuk. Dan kini
berada di antara pantatku. Aku coba membantu mengocok penis dia agar bisa
segera keluar dan aku segera terbebas juga dari dia. Aku raba penis itu, terasa
keras seperti batu dengan urat-urat yang sangat menonjol.
“ uuhhh.. ya, terus
sayang, tumpahkan spermamu ke mulutku please..” desahku berpura-pura sambil
meraih pistol tidur.
Kini aku berdiri
dengan kedua lututku sambil mengocok Penis monster itu. Dengan perasaan jijik Mulutku mencoba
menjilat penis itu. Hanya dengan beberapa kali jilatan, sperma monster itu
sudah menyembur di mukaku. Bersamaan dengan itu aku menempelkan pistol tidur di
selangkangannya. “bruuk..!” monster itu langsung tertidur pulas. Hufftttt!!..
aku menyeka keringat. Pengalaman yang
mengerikan buatku bertemu dengan monster ini. Aku harus segera ke ruang command
centre. Disitu tempat yang paling aman sambil mengatur strategi berikutnya.
Baru saja aku keluar ruangan. Sepucuk pistol menempel
dikepala.
“ berhenti.. berikan pistolmu” hardiknya. kepalaku ditodong sebuah pistol. Hatiku kembali
berdebar-debar. Apa lagi yang harus kuhadapi sekarang. Vaginaku masih ngilu
karena monster itu tadi dan sekarang aku harus bertemu maniak lainnya..
Tanpa menoleh ke belakang, Aku berlari
sekencang-kencangnya. Lanjut disini
Aku jatuhkan
pistol tidurku dan mengangkat tanganku. Lanjut disini







