16 Nov 2014

1b

Dengan tubuh telanjang seperti pasien lainnya kamu masuk ruang senjata setelah mereka semua pergi. “ gila, mereka ambil semua senjatanya” ujarmu lirih sambil melongo melihat sudah tidak ada senjata lagi yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri. 
“tenang saja, masih ada aku” terdengar suara parau dibelakangku. Begitu aku menoleh, aku melihat seseorang yang hitam dan sangat besar seperti hulk. Bedanya ini berwarna hitam, tapi rambut dia coklat keemasan.  Dan oohh noooo… dia mempunyai penis sebesar tanganku dan itupun masih belum berdiri, bergelantungan di pangkal pahanya. 
“ kemari datanglah pada pelukanku cantik, marilah kita saling mencintai dengan menyatukan gairah kita” kata monster itu berpuitis sambil berusaha memelukmu. 
“ Pergi bajingan!!” teriakmu. Monster berhenti, senyumnya berganti kemarahan. Tiba-tiba leherku sudah berada dalam genggamannya dan dengan tetap mencekikku dia angkat aku keatas dengan entengnya. 
“ Jangan berkata seperti itu!!.. aku benci kata-kata kotor, karena itu merusak puisi tentang cinta” teriaknya parau menggema di seluruh ruangan. 
“ ok.ok.. maafkan aku.. eekkk” ujarku bersusah payah bicara dalam cekikannya. “itu jauh lebih baik cintaku” ujarnya sambil memutar tubuhku membelakanginya, oohhh penisnya menempel di vaginaku dan penis itu sudah berdiri sekarang!.. aku ditidurkan di meja senjata dengan posisi nungging dan tangannya masih mencengkeram leherku.



Penis hitam dengan dengan panjang tidak kurang dari 30cm dan sangat gemuk itu berusaha dimasukkan ke vaginaku. Aku sangat ngeri membayangkan bila batang penis itu menjebol vaginaku “arrrgghhhh… hentikan  bangsat!!” teriakku kesakitan saat ujung penis itu dipaksakan masuk  ke vaginaku. 
“OHH.. EHHMM, kalau masih ingin tetap hidup, aku hanya ingin mendengarmu menikmatinya” teriaknya sambil mengeraskan cekikannya.
“ aahh.. aahhh” ujarku pelan menuruti dia. 
“aah aku mau keluar cintaku” teriaknya. Saat aku menoleh ke arah kanan Aku melihat sebuah pistol tidur tergeletak di balik kotak peluru. Penis monster itu meleset dari vaginaku karena tidak bisa masuk. Dan kini berada di antara pantatku. Aku coba membantu mengocok penis dia agar bisa segera keluar dan aku segera terbebas juga dari dia. Aku raba penis itu, terasa keras seperti batu dengan urat-urat yang sangat menonjol. 
“ uuhhh.. ya, terus sayang, tumpahkan spermamu ke mulutku please..” desahku berpura-pura sambil meraih pistol tidur.
Kini aku berdiri  dengan kedua lututku sambil mengocok Penis monster itu.  Dengan perasaan jijik Mulutku mencoba menjilat penis itu. Hanya dengan beberapa kali jilatan, sperma monster itu sudah menyembur di mukaku. Bersamaan dengan itu aku menempelkan pistol tidur di selangkangannya. “bruuk..!” monster itu langsung tertidur pulas. Hufftttt!!.. aku menyeka keringat.  Pengalaman yang mengerikan buatku bertemu dengan monster ini. Aku harus segera ke ruang command centre. Disitu tempat yang paling aman sambil mengatur strategi berikutnya.
Baru saja aku keluar ruangan. Sepucuk pistol menempel dikepala. 
“ berhenti.. berikan pistolmu” hardiknya. kepalaku ditodong sebuah pistol.  Hatiku kembali berdebar-debar. Apa lagi yang harus kuhadapi sekarang. Vaginaku masih ngilu karena monster itu tadi dan sekarang aku harus bertemu maniak lainnya..

Tanpa menoleh ke belakang, Aku berlari sekencang-kencangnya. Lanjut disini





Aku jatuhkan pistol tidurku dan mengangkat tanganku. Lanjut disini