Aku hentakkan badan ethan keras-keras, dan membuka pintu mobil. Seketika itu juga Aku berlari sekencang-kencangnya ke arah kampus. Sampai kampus melihat temen-temen kampus masih rame belum pada pulang. Aku melihat salah satu temenku Susi. Aku hampiri dia.
” Kenapa kamu jen, lari-lari kayak barusan lihat setan aja” sahut susi kaget.
“ sus pinjem jaket kamu doong, aku salah kostum neeh..” pintaku memelas.
“ buset jen, baju kamu sexi amaat” katanya.
“ makanya itu, pinjem yaah” pintaku lagi.
“ nih.. pake aja, kamu ga kuliah? Udah telat tuh” kata susi memberi tahu. Aku sudah tidak memikirkan kuliah, yang penting aku selamat dari kebejatan ethan. Dan lagi kuliahnya juga hampir selesai. Aku habiskan waktu dengan susi di kantin minum lemon tea hangat untuk meredakan rasa shockku. Sengaja aku tidak menceritakan pada susi. Bisa-bisa aku yang malu sendiri.
Setelah beberapa lama di kantin, sekelabatan aku melihat pak irfan. Dosen yang memberi mata kuliah yang kelasnya tidak jadi aku masukin tadi. Sebenarnya aku benar-benar harus masuk kelasnya tadi. Karena aku sudah masuk daftar cekal karena absen empat kali dengan yang hari ini. Melebihi batas maksimum tiga kali. Tiba-tiba pak irfan sudah disebelahku
“ kamu Jennifer kan?” sapanya.
“ eh iya pak” sahutku kaget.
“ bukannya kamu tadi harusnya ada dikelas saya? Kamu kan sudah banyak absen selidiknya.
“ iya pak, maaf pak “ sahutku sekenanya.
“ habis ini kamu temuin saya di ruangan saya ya “ sahutnya tegas. Lalu kemudian pergi. Mampus aku bisa-bisa ga dibolehin ujian nih.
Pak Irfan, seorang dosen yang cukup senior di kampusku, beliau berumur pertengahan 40-an, berkacamata dan sedikit beruban, tubuhnya pendek kalau dibanding denganku hanya sampai sedagu. Diajar olehnya memang enak dan mengerti namun beliau agak centil, karena suka cari-cari kesempatan untuk mencolek atau bercanda dengan mahasiswi yang cantik pada jam kuliahnya termasuk juga aku pernah menjadi korban kecentilannya.
Karena sudah senior dan menjabat kepala jurusan, beliau diberi ruangan seluas 5×5 meter bersama dengan Bu Hany yang juga dosen senior merangkap wakil kepala jurusan. Kuketuk pintunya yang terbuka setelah seorang mahasiswa yang sedang bicara padanya pamitan.
“ silahkan duduk” kata pak irfan tegas. Lalu dia mengambil buku absen.setelah dia duduk kembali dengan serta merta aku memohon belas kasihan, aku memelas padanya supaya ada keringana.
“Aduhh…tolong dong pak, soalnya tadi saya benar-benar ada suatu masalah yang membuat saya tidak bisa masuk kelas pak” pintaku menghiba.
“Tapi kan dik, anda sendiri harusnya tahu kalau absen yang tiga sebelumnya anda bolos bukan karena sakit atau apa kan, seharusnya untuk berjaga-jaga anda tidak absen sebanyak itu dong dulu”
Beberapa saat aku tawar menawar dengannya namun ujung-ujungnya tetap harga mati, yaitu aku tetap tidak boleh ujian dengan kata lain aku tidak lulus di mata kuliah tersebut.
Air mataku mulai bercucuran, sampai bu hani yang ada diruangan itu jadi jengah dan pergi. Aku mulai menangis sesengukan. Aku berharap pak Irfan bisa iba kepadaku.
“ OK.. akan saya bantu, asal kamu bantu saya juga” sahutnya. Mataku berbinar-binar mendengarnya “ saya akan bantu pak, apapun itu akan saya kerjakan “ kataku kegirangan.
“ baiklah “ kata pak Irfan, lalu berdiri menutup pintu dan menguncinya. Perasaanku jadi tidak enak. Pak Irfan membisikkan sesuatu di telingaku
“ puaskan aku, karena aku tidak pernah mendapatkannya dari istriku “ bisik pak Irfan. Kepalaku langsung berat. Lolos dari ethan malah ketemu bandot tua mesum yang juga menginginkan tubuhku. Semua laki-laki memang bejat!!..
Tiba-tiba kedua tangan Pak Irfan sudah menyusup ke dalam jaket yang aku pinjam dari susi tadi, dan mulai meremas-remas payudaraku. Antara jijik dan nikmat jadi satu dalam kepalaku. Tangan pak Irfan makin berani dan mulai menyusup ke dalam T-shirtku, melewati BHku dan langsung memilin putingku. Bekas rasa dari ethan tadi masih belum hilang hingga Aku menggenggam erat kursi. Entah menahan jijik atau menahan nikmat. Perasaanku tidak karuan. Vaginaku juga mulai basah lagi. Seandainya boleh memilih mending aku sama ethan tadi daripada dengan bandot tua ini. Aku mulai menyesali kenapa aku tadi malah lari ke kampus. Kenapa aku tidak balik ke kost aja. Tapi semua sudah terlanjur. aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tangan kanan pak irfan mengangetkanku saat masuk disela-sela pahaku dan mulai meraba vaginaku yang masih berselaput celana dalam. Sementara tangan kirinya masih terus meremas-remas payudaraku. Aku terpekik.. peganganku di kursi semakin erat..
Bila kamu lari mencari bantuan lanjut disini








