12 Nov 2014

Jennifer 1 a1b

Aku tidak habis pikir kenapa Nita lakuin ini semua. 
“ Apa-apaan kamu Nit.. “ teriakku sambil mehentakkan tangan Nita. 
“ Loh Jen kamu kok marah gini. Kamu tidak suka ya?” sahut nita Lirih. 
“ OK..OK.. Maafin aku ya jen. Aku kira kamu bakal tidak keberatan”.kata Nita memohon kepadaku. Aku ngeloyor pergi ke kamarku tanpa peduli dengan Aldi yang terbengong-bengong merasa bersalah. Nita menyusulku ke kamar. Saat aku kemasi pakaianku Nita memelukku dari belakang. 
“ maafin aku ya jeen..” pintanya memelas. Terasa Payudara Nita menempel erat di punggungku, dan bulu kemaluannya menggesek di pantatku. Punggungku terasa basah. Ternyata Nita menangis, dan air matanya membasahi punggungku. Jadi tidak enak juga sama Nita. Aku balikkan badanku dan membisikkan padanya 
“ Iya nit.. aku maafin kok.. udah lupain ajah” bisikku. Nita mengangguk, raut mukanya memperlihatkan bila dia memang sangat menyesal. 
“ aku pulang dulu ya nit.. ga enak ngeganggu kamu sama Aldi” kataku. Nita malah menggenggam erat tanganku. 
“jangan pergi Jen.. PLeasee” katanya dengan mata berkaca-kaca.  Kembali Dia memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Entah kenapa aku merasa sangat tentram dengan pelukan Nita. Payudara kami kembali beradu. Terasa putingnya menempel pada putingku. 
“ Bukankah Kamu masih berhutang Orgasme sama aku?..” bisik Nita pelan tepat dibelakang telingaku.

Aku tersenyum dan mulai meraba payudaranya, pelan-pelan wajah kami semakin dekat, hidungku bertemu hidungnya. Hembusan nafas Nita  yang sudah memburu terasa di wajahku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling mendekat hingga bertemu. 


Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, dia juga ikut mengeluarkan lidahnya membalas ciumanku. Lidah kami menari-nari dalam mulutnya. Tangannya yang lembut membelai punggungku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Demikian pula halnya tanganku turut mengelus punggungnya, sementara tangan kananku meremas payudaranya sambil memilin-milin putingnya, puting itu makin mengeras karena terus kumain-mainkan. Tanpa melepas ciuman, kudorong tubuhnya supaya terlentang di kasur. Terlihat Nita sangat cantik dengan posisi telanjang dan terlentang seperti itu.  Aku segera menindihnya. Ciuman kami semakin hot seiring dengan gairah yang makin membara dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan dan nafas kami yang makin menderu. 


Kamu yakin mau melanjutkan ini?