10 Nov 2014

Jennifer 1.a1.1

"Hai.., Jen. Lama ga ketemu ya..." suara aldi menggema di ruangan itu. Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ. Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Nita melepaskan cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata. 

"Apa-apaan ini Nit..?" tanyaku parau sambil melihat ke arah Nit. Sementara tangan Aldi yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak. Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Aldi  yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu., karena ini juga pertama kali buatku disentuh oleh seorang lelaki. Aku melihat Nita mulai membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya. 
"Nikmati Jen..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!" suara Nita masih sedikit membisik. Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Aldi yang mulai mendarat di daerah atas payudararaku yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam. 
"kupinjamkan pacarku padamu jen.. nikmatilah..!" kata Nita lagi. Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Nita yang masih dengan posisinya. 
"Ayo Beb..! Nikmati jenifer yang pernah kamu taksir dulu..!" kata Nita lagi. 
Haah.. Aldi pernah naksir aku?.. gumamku dalam hati. Aku benar-benar ga nyangka dengan semua ini.. Aldi Sangat pintar sekali memancing gairahku untuk bangkit lagi. Apalagi ketika tangan aldi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu. 
"Oh.., aldi.., aldiii... jangaan... aldii..!" 
aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Aldi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh. Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. 
Aku sudah terbius suasana. Aldi  mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Aldi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Nita.



Kamu yakin mau melanjutkan ini?




Atau bila tidak, klik dibawah ini..