"Hai.., Jen. Lama ga ketemu ya..." suara aldi menggema
di ruangan itu. Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.
Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Nita
melepaskan cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar.
Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa
kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.
"Apa-apaan ini
Nit..?" tanyaku parau sambil melihat ke arah Nit. Sementara tangan Aldi yang
tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai
merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak. Rupanya
Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika
terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Aldi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi
segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati
dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu., karena ini juga pertama
kali buatku disentuh oleh seorang lelaki. Aku melihat Nita mulai membelai
vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas
pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.
"Nikmati Jen..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!" suara Nita
masih sedikit membisik. Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Aldi yang
mulai mendarat di daerah atas payudararaku yang tidak tertutup. Mataku masih
terpejam.
"kupinjamkan pacarku padamu jen.. nikmatilah..!" kata Nita
lagi. Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Nita yang masih dengan
posisinya.
"Ayo Beb..! Nikmati jenifer yang pernah kamu taksir
dulu..!" kata Nita lagi.
Haah.. Aldi pernah naksir aku?.. gumamku dalam
hati. Aku benar-benar ga nyangka dengan semua ini.. Aldi Sangat pintar
sekali memancing gairahku untuk bangkit lagi. Apalagi ketika tangan aldi
sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.
"Oh.., aldi.., aldiii... jangaan... aldii..!"
aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Aldi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh. Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku.
Aku sudah terbius suasana. Aldi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Aldi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Nita.
aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Aldi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh. Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku.
Aku sudah terbius suasana. Aldi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Aldi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Nita.








